Dari sekolah ke Laboratorium riset: Kolaborasi SMAN 3 dan BRIN Antarkan siswa meneliti bakteri
BANDUNG — Dua siswa SMA Negeri 3 Bandung, Abdul Latif Faturahman (Fatur) dan Kanaka Avhiyo Sachi (Kanaka), bersama guru pembimbing biologi Mafatih Ayulia Permadikusumah, S.Pd., Gr. (Ibu Mafa), menghabiskan dua minggu pada akhir Agustus 2026 di laboratorium Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Kawasan Sains dan Teknologi Samaun Samadikun, Bandung. Mereka melakukan penelitian mikrobiologi di bidang resistensi antibiotik, di bawah pendampingan peneliti BRIN, Ibu Ida Farikha Azizah, S.P.
Bagi kedua siswa, ini adalah pengalaman pertama bekerja dengan peralatan riset sungguhan dan bakteri yang dikenal kebal terhadap banyak antibiotik.
Melawan bakteri yang kebal antibiotik
Penelitian ini berangkat dari masalah resistensi antibiotik: semakin banyak bakteri yang kebal terhadap antibiotik umum, sehingga infeksi yang dulu mudah diobati kini menjadi sulit ditangani, terutama di rumah sakit. Resistensi antibiotik menjadi salah satu ancaman kesehatan global, sehingga cara-cara baru untuk melawannya terus dicari.
Fatur dan Kanaka menguji potensi bahan alam terhadap bakteri uji di laboratorium. Rincian penelitian belum dapat dipaparkan karena karya ini sedang disiapkan untuk kompetisi sains dan publikasi ilmiah.
Belajar langsung dengan alat riset
Selama dua minggu, Fatur dan Kanaka menjalani alur penelitian dari bahan mentah hingga uji bakteri. Setiap tahap dikerjakan sendiri oleh siswa, dengan arahan Ibu Ida dan Ibu Mafa.
- Menyiapkan simplisia: Bahan alam yang sudah dikeringkan dihaluskan dengan grinder menjadi serbuk, lalu diayak.
- Mengukur kadar air: Serbuk diuji dengan moisture analyzer untuk memastikan bahan cukup kering sebelum diekstraksi.
- Menimbang dengan presisi: Bahan dan reagen ditimbang menggunakan timbangan analitik dengan ketelitian hingga miligram.
- Membuat ekstrak: Serbuk bahan direndam dalam pelarut (maserasi), lalu disaring untuk mendapatkan ekstrak.
- Sterilisasi: Media dan alat disterilkan dengan autoklaf agar bebas dari mikroba lain.
- Bekerja secara aseptik: Pengembangbiakan dan uji bakteri dilakukan di dalam laminar air flow, dengan api bunsen dan sarung tangan, untuk menjaga sampel tetap steril dan peneliti tetap aman.
Ketelitian menjadi pelajaran utama. Satu kesalahan kecil, seperti membuka cawan di luar area steril, bisa membuat hasil pengamatan tidak dapat dipakai.
Seru sekaligus edukatif
Bagi Ibu Mafa, kesempatan ini membuka mata siswa tentang wajah sains yang sebenarnya.
“Di kelas, anak-anak hanya mengenal secara teori tentang bakteri dan antibiotik. Di sini, mereka melihat, menimbang, dan mengujinya sendiri. Mereka belajar bahwa penelitian butuh kesabaran, ketelitian, dan kejujuran terhadap data,” ujar Ibu Mafa.
Fatur dan Kanaka mengaku pengalaman ini sangat seru. Bekerja di samping peneliti BRIN membuat mereka merasakan langsung suasana laboratorium riset.
“Awalnya deg-degan karena harus bekerja dengan bakteri patogen. Tapi Ibu Ida menjelaskan setiap langkah dengan sabar, jadi kami paham kenapa semuanya harus steril,” tutur Fatur.
“Yang paling berkesan itu waktu memakai laminar air flow dan autoklaf. Selama ini hanya lihat di buku,” tambah Kanaka.
Pendampingan Ibu Ida menjadi kunci. Ia tidak hanya mengajarkan cara memakai alat, tetapi juga alasan ilmiah di balik setiap prosedur.
Menyemai ilmuwan muda
Kegiatan ini menunjukkan bahwa siswa SMA mampu terlibat dalam riset yang serius bila diberi ruang dan bimbingan. Kolaborasi sekolah dengan lembaga riset seperti BRIN memberi siswa akses ke fasilitas dan keahlian yang tidak tersedia di laboratorium sekolah.
Pengalaman ini juga memberi gambaran nyata tentang profesi peneliti. Siswa tidak hanya belajar teknik laboratorium, tetapi juga cara berpikir ilmiah: merumuskan pertanyaan, merancang percobaan, mengamati dengan cermat, dan menarik kesimpulan berdasarkan data, bukan dugaan.
Data yang terkumpul kini diolah Fatur dan Kanaka menjadi karya ilmiah. SMA Negeri 3 Bandung berharap pengalaman ini menginspirasi lebih banyak siswa untuk berani bertanya, meneliti, dan mencari solusi atas masalah nyata, termasuk ancaman resistensi antibiotik.
Galeri kegiatan

Tim peneliti muda SMAN 3 Bandung di laboratorium BRIN Samaun Samadikun.

Bahan kering dihaluskan dengan grinder menjadi serbuk simplisia.

Kadar air serbuk bahan diukur dengan moisture analyzer.

Menimbang bahan dengan timbangan analitik.

Uji bakteri dilakukan secara aseptik di dalam laminar air flow.


Menyiapkan media dan kultur bakteri di area steril.

Tim peneliti muda bersama guru pembimbing di SMA Negeri 3 Bandung.


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!